Laman

Rabu, 05 Juli 2017

MASA LALU JANGAN BIARKAN BERLALU

INDONESIA

Pernah  kudengar dari simbah
kehidupan sederhana damai 
di kampung di tepi bukit
bercocok tanam di sawah
di ladang
makan nasi jagung
singkong rebus
atau hanya dibakar
bahkan tak makan apa pun bisa tersenyum

Tutur kata lembut sopan
tingkah laku penuh santun
saling menghargai menghormati
menolong tak harap terima kasih
tak ada caci maki tidak pula saling membenci
yang ada saling berdoa tulus suci
adalah budaya pakaian setiap pribadi
ikan di empang pun menari ingin berkawan nasi 
atau ubi

Itu dulu kata simbah
sekarang bukit itu sudah berubah laksana metropolitan
banyak anak-anak muda tak lagi suka bekerja
mereka hanya berpangku tangan atau minta-minta
hanya berdandan keluyuran sudah jadi kebiasaan
susah cari kerja jadi alasan

Oh cucuku
jangan lakukan seperti itu
ingatlah
ribuan pulau terhampar di  khatulistiwa 
adalah mutiara tak ternilai harganya
beraneka ragam suku bangsa dan budaya
beraneka ragam adat istiadat hebat
beraneka ragam bahasa penyambung rasa
dan beraneka ragam segala-segala
telah diikat tali suci Binneka Tunggal Ika
itulah Indonesia
telah menanti belai kasihmu
jangan biarkan merana di tangan besi tak bertali
bangkitkan saudara sebangsa  dan setanah air tanpa banyak bibir
teladankan diri bangun jiwa raga
bersatu padu bangun
bangun segala-segala
negeri indah kaya raya subur makmur
baldatun toyyibatun warobbun ghofur
semua pandai bersyukur
aamiin, ya robbal'aalamiin
ya Allah yang maha luhur

DAMAI HATIKU

DAMAI HATIKU

Indah berseri merekah merona
menghiasi tamanku
bermekaran berebut wajah nan tampak merayu
...semerbak wangi memenuhi nuansa syahdu
tiada henti terus semi bersemi
kuncup menguncup berganti dalam semi
itulah bunga-bungaku, kesayanganku
berteman kupu-kupu setiap waktu
sungguh suatu nan tiada bosan saling membantu
Begitu pula adanya hatiku
kuhibur selalu setiap waktu
Haruskah ku mengadu ?
Tidak ! Tak perlu itu
Jiwa damai dalam bising dan sunyi
adalah damai dan damai dalam kedamaian

( Karya : Nam Ratus, Januari 1990)